Sejarah Maritim Indonesia
Subjek sejarah maritim secara menyeluruh meliputi memancing, berburu paus, hukum maritim internasional, sejarah angkatan laut, sejarah perkapalan, desain kapal, pembuatan kapal, sejarah navigasi, sejarah berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan maritim (oseanografi, kartografi, hidrografi, dan lain-lain ), eksplorasi laut, perdagangan dan ekonomi maritim, pelayaran, resor pinggir laut, sejarah mercusuar, bertemakan maritim, seni bertemakan maritim, sejarah sosial para pelaut dan para feri dan komunitas yang berkaitan dengan laut.
Berpijak dari pernyataan AB Lapian tersebut, Susanto Zuhdi memaparkan penjelasannya tentang laut. Oleh sebab itu, penulis ingin mengajak pembaca untuk kembali mengonsepsikan Indonesia melalui perspektif kemaritiman. Apa yang diwacanakan oleh pemerintahan Jokowi untuk mengutamakan laut bukan hal baru jika dilihat dari perjalanan bangsa Indonesia.
- Sebab, pandangan bahwa laut merupakan kehidupan, tempat banyak orang yang diperkirakan sulit ditolak. Sejak zaman pra sejarah, manusia yang mendiami kepuluan Nusantara sudah mampu berlayar ke Barat Afrika. Secara geografis Nusantara yang menjadi cikal bakal Republik Indonesia lebih tepat disebut negara kelautan.
Hal tersebut telah dibuktikan oleh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Dua emporium kekuatan kerajaan Nusantara itu bisa menjadi besar karena bisa menguasai laut. Dengan menguasai laut dan tentu dengan militer yang kuat, dua kerajaan tersebut berhasil mengontrol seluruh perniagaan di seluruh Asia Tenggara.
Keadaan tersebut berlansung cukup lama, hingga datangnya para pelaku Eropa pada abad 16. Dunia kemaritiman Nusantara sejak saat itu menghadirkan kapitalisme dan imperialisme membatasi kehidupan kehidupan. Keberlanjutan jaringan pelayaran orang Nusantara dengan dunia maritimnya kini goyah termasuk kerajaan yang ada di dalamnya, setelah itu Nusantara masuk dalam fase kolonialisme.
Kolonialisme menyebabkan perubahan cara pandang manusia nusantara dalam kehidupan sehari-hari. Laut tak lagi menjadi prioritas, kalau pun melaut, laut sudah dikuasai pihak kolonial. Tidak cukup sampai di situ, Belanda juga menerapkan pemahaman konsep darat seperti yang ada di Eropa. Sejak saat itu, semua kehidupan termasuk laut menghadap ke utara (Eropa). Contohnya Selatan Jawa yang pada masa kerajaan Majapahit menjadi pelabuhan tersibuk, saat itu ditinggalkan dan menjadi daerah miskin hingga saat ini. Proses laut berlangsung hingga menjelang kemerdekaan.
Menjelang kemerdekaan, para Founding Fathers punya rasa ingin mengembalikan masa-masa kemerdekaan Sriwijaya dan Majapahit, salah satunya dengan kembali ke laut. Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 31 Mei 1945, Muhammad Yamin dengan tegas memperjuangkan Tanah Air ke dalam wilayah negara Indonesia. ia menegaskan bahwa pemahaman Tanah Air adalah konsep tunggal.
Dengan demikian, Tanah Air merupakan konsep yang satu. “..membicarakan daerah Negara Indonesia dengan menumpahkan perhatian kepada pulau dan daratan sesungguhnya adalah berlawanan dengan realitas. Tanah Air tersedia terutama daerah lautan dan memiliki pantai yang panjang.”
Yamin meyakini laut Indonesia namun kala itu mendapat hambatan dari dunia Internasional yang menyebut laut merupakan zona bebas. Perjuangan Indonesia mengintegrasikan laut ke dalam wilayahnya dimulai kembali oleh Perdana Menteri Djuanda pada 1957. Untuk menguasai kembali lautan, pemerintah Soekarno memperkuat pasukan angkatan laut baik dari jumlah prajurit hingga alat utama sistem. Namun, laut sebagai sumber kehidupan yang gagal setelah kekuasaan berpindah tangan ke Soeharto yang berorientasi ke darat.
Buku yang terdiri dari 42 bagian ini kiranya penting untuk dibaca untuk semua agar tidak lagi meninggalkan laut sebagai kehidupan. Sebagai penutup, berikut kutipan cerita rakyat Bugis yang menggambarkan kekayaan laut. Ketika diajukan mas kawin untuk melamar gadis pujannya, pemuda miskin menjawab, “Pak, saya masih muda, karena itu belum sempat mengumpulkan kekayaan. Tetapi, saya memiliki kolam ikan yang luas dengan jumlah ikan yang tak terhitung banyaknya, yang tak pernah bisa dipanen. Kolam itu adalah laut, pusaka dari nenek moyang nenek moyang saya.”
Indonesia adalah Negara Kelautan
Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari belasan ribu pulau bisa juga disebut sebagai negara kepulauan atau Archipelagic State . Kata Archipelago sering diartikan sebagai “Kepulauan” yang sebenarnya ada perbedaan pengertian secara fundamental antara kepulauan dan kepulauan. Kata kepulauan sendiri berarti kumpulan pulau-pulau, sedangkan istilah Archipelago berasal dari bahasa latin, yaitu Archipelagus yang terdiri dari dua kata yaitu Archi yang berarti laut dan pelagusyang berarti utama sehingga arti sesungguhnya adalah Laut Utama. Sebagai negara bahari, Indonesia tidak memiliki satu laut utama, namun tiga yang dimana pada abad XIV dan XV merupakan zona komersial di Asia Tenggara yaitu Laut Banda, Laut Jawa dan Laut Flores, dimana ketiganya merupakan zona perairan paling menjanjikan.
Sejak Zaman Awal Kerajaan di Indonesia, kehidupan kelautan di Indonesia sudah sangat mendasar. Karena daerah Indonesia yang merupakan daerah kepulauan yang membutuhkan lautan untuk mengakses daerah antar daerah. Armada laut yang dimiliki oleh Kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, hingga Demak pun tak bisa dilihat sebelah mata, sebagai kerajaan maritim, mereka sangat berperan dalam perdagangan yang mencakup daerah Indonesia, bahkan mancanegara dan sangat disegani yang tertera dalam catatan para pedagang dan utusan dari Cina ataupun dari Arab.
Sejarah maritim memiliki korelasi yang relatif banyak dengan sejarah nusantara. Sebab wilayah nusantara berkembang dari sektor kemaritiman. Kerajaan di Nusantara yang bercorak maritim menunjukkan bahwa kehidupan leluhur kita sangat tergantung pada sektor bahari. Baik dalam pelayaran antar pulau, pemanfaatan sumber daya alam laut, hingga perdagangan melalui jalur laut dengan pedagang dari daerah lain maupun pedagang dari manca negara.
Peran Perairan Indonesia
Indonesia merupakan daerah yang sangat strategis, dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang menghubungkan dua benua yaitu Asia dan Australia. Laut Banda, Jawa dan Flores pada abad XIV dan XV merupakan zona komersial di Asia Tenggara. Kawasan Laut Jawa sendiri terbentuk karena perdagangan rempah-rempah, kayu gaharu, beras, dan sebagainya antara barat dan timur yang melibatkan Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Nusa tenggara. Oleh Karena itu kawasan Laut Jawa terintegrasi oleh jaringan pelayaran dan perdagangan sebelum datangnya bangsa Barat. Menurut Houben, Laut Jawa bukan hanya sebagai laut utama bagi Indonesia, tetapi juga merupakan laut inti bagi Asia Tenggara. Peranan kawasan Laut Jawa dan Jaringan Laut Jawa masih bisa dilihat sampai saat ini. Jadi bisa dikatakan bahwa Laut Jawa merupakanMediterranean Sea bagi Indonesia, bahkan bagi Asia Tenggara.
Sebagai “Laut Tengah”-nya Indonesia dan bahkan Asia Tenggara, Laut Jawa menjadi penghubung yang menghubungkan berbagai komunitas yang berada disekitarnya baik dalam kegiatan budaya, politik, maupun ekonomi. Dengan demikian Laut Jawa tentu memiliki fungsi yang mengintegrasikan berbagai elemen kehidupan masyarakat yang melingkunginya. Dalam konteks itu bisa dijangkau jika awal masehi bangsa Indonesia terlibat aktif dalam pelayaran dan perdagangan internasional antara dunia Barat (Eropa) dengan dinia Timur (Cina) yang melewati selat Malaka. Dalam hal ini bangsa Indonesia bukan menjadi objekaktivitas perdagangan itu, tetapi telah mampu menjadi subjek yang menentukan. Suatu hal yang bukan kebetulan jika suatu daerah di Nusantara memproduksi berbagai komoditas dagang yang khas agar dapat mengambil bagian aktif dalam pelayaran dan perdagangan itu. Bahkan pada jaman kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit Selat Malaka sebagai pintu gerbang pelayaran dan perdagangan dunia dapat dikuasai oleh bangsa Indonesia.
Pada jaman kerajaan Islam, jalur perdagangan antar pulau di Indonesia (antara Sumatera-Jawa, Jawa-Kalimantan, Jawa-Maluku, Jawa-Sulawesi, Sulawesi-Maluku, Sulawesi-Nusa Tenggara dan sebagainya) menjadi bagian yang melekat dalam konteks perdagangan internasional. Bahkan Indonesia sempat menjadi tujuan utama perdagangan internasional, bukan negeri Cina.Keadaan ini lebih berkembang ketika orang Eropa mulai datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Indonesia mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pedagang dari penjuru dunia. Sebagai konsekuensinya, jalur perdagangan dunia menuju Indonesia berubah (Rute melalui selat Malaka menjadi rute alternatif karena ada rute baru yaitu dengan mengelilingi benua Afrika, kemudian menyeberangi Samudera Hindia, langsung menuju Indonesia.
Dari sekian banyak rute pelayaran dan perdagangan di perairan Nusantara, rute pelayaran dan perdagangan yang melintasi Laut Jawa merupakan rute yang paling ramai. Ini mudah dijangkau karena Laut Jawa beradadi tengah kepulauan Indonesia. Laut Jawa hanya memiliki ombak yang relatif kecil dibandingkan dengan laut lain yang ada di Indonesia dan sekitarnya, sebut saja Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Laut Arafuru, Laut Banda, dan sebagainya. Dengan demikian Laut Jawa sangat cocok untuk pelayaran dan perdagangan. Laut Jawa juga memiliki kedudukan yang strategis dalam jalur lalu lintas perdagangan dunia yang ramai antaram Malaka – Jawa -Maluku. Dalam konteks itu Laut Jawa berfungsi sebagai jembatan penghubung pusat dagang di sepanjang pantai yang berkembang karena pelayaran dan perdagangan melalui Laut Jawa.
Pelayaran dan perdagangan Laut Jawa juga mencakup kota-kota di kawasan lain seperti Belawan Deli, Tanjung Pinang (Riau), Malaka, Singapura, Ternate, Ambon, dan kawasan Indonesia Timur lainnya. Kata singkat, dalam sejarah Indonesia, pelayaran dan perdagangan Laut Jawa mencakup pelayaran dan perdagangan di seluruh Nusantara. Ini berarti Laut Jawa merupakan inti atau inti dari aktivitas pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Jadi, berbicara tentang pelayaran dan perdagangan di Nusantara, berarti berbicara tentang peran yang dimainkan oleh laut Jawa. Dalam konteks ini Laut Jawa berperan sebagai jembatan dan katalisator jaringan pelayaran dan perdagangan di seluruh Nusantara, jangkauannya mencakup pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, bahkan kepulauan Maluku, Irian dan pulau-pulau kecil lainnya.
Demikian penjelasan singkat tentang Sejarah Maritim Indonesia, Semoga dapat menambah wawasan kita tentang Kemaritiman Indonesia.
sumber: maritimtours.com
Sangat bermanfaat
BalasHapus